Jogja Berkabut Pagi Ini, Malika

Jogja Berkabut Pagi Ini, Malika

Oleh: Ade Nilasari
Jogja pagi ini berkabut, Malika. Sementara bus yang kutumpangi padat merayap. Pagi ini aku meninggalkan Jogja, dengan gadis kecil ini, yang mengingatkanku padamu.
***
Senja yang gelisah. Seperti wajah Malika yang pias dan bersimbah peluh. Lima kilometer sudah dia menuntun sepedanya yang bocor. Entah paku mana yang menusuk ban sepedanya yang memang sudah usang. Paku itu pastilah titisan Bapaknya, yang memang tidak mengijinkan dia pergi saat berpamitan dirumah tadi. Ah, tak boleh su’udzon kata Ustadz Alim.
Dibawah pohon ditikungan, akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat sejenak. Diambilnya sebotol minuman dari dalam tas. Oh, kecewanya saat setetes airpun tidak juga keluar. Seragam sekolahnya sudah basah kuyup. Entah bagaimana rupanya kini. Langit mulai gelap, hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Malika duduk termangu menatap langit yang tenang. Senja  berhenti gelisah, kini digantikan malam yang gelap. Uh, rumahnya masih sepuluh kilo lagi. Dia sudah tak sanggup. Dia tak membawa uang sepeser pun untuk naik angkot. Sedangkan dari tadi, tak dijumpai tetangga atau orang yang dikenalnya melintas dijalan, yang bisa dia tebengi.
Malika bangkit dari duduk, lalu mulai berjalan lagi. Suasana mulai sepi, hanya sayup-sayup suara adzan Magrib yang terdengar. Dia harus cepat-cepat menemukan Masjid sebelum waktu Magrib habis.
“Lik..?”
Sebuah suara ruji dan ban bergesek terdengar menepi, lalu mendekat kearahnya. Malika menoleh. Tampaklah Feri, sahabatnya itu bertengger diatas sepedanya. Malika berhenti.
“Kemana saja kamu Lik? Aku cari-cari di Mushola tidak ada. Kawan-kawan sudah menunggu.”
Feri turun dari sepeda, menepi sembari menuntun sepedanya. Dalam hati dia bersyukur bisa betemu dengan Malika. Anak perempuan malam-malam begini belum pulang, tentu saja dia khawatir.
“Ban sepedaku bocor Fer!”
Feri menstandarkan sepedanya, lalu membungkuk memeriksa ban sepeda Malika.
“Wah, ban kamu sudah gundul Lik, dan ini sobeknya besar sekali. Paku darimana ini Lik?”
Malika menggeleng.
“Kita cari tambal ban Lik, didepan sana ada.”
“Tapi aku belum Magrib Fer.”
“Iya didepan sana, ada tambal ban didekat Masjid. Kamu pergilah solat, biar sepeda kamu aku yang mengurus.”
Malika mengangguk lagi.
Masjid tempat Malika solat itu kecil tetapi bersih sekali. Masjid At-Taqwa, Malika membaca plakat nama didepan Masjid. Masjid ini terdiri dari dua bangunan. Bangunan pertama untuk solat, dan bangunan kedua digunakan untuk mengaji. Tampak beberapa remaja dan anak-anak seusianya sedang mengaji Al-Quran. Mereka duduk melingkar dan mengaji secara bergiliran dengan model semakan. Sedangkan didalam bangunan lain Masjid ada beberapa orang yang sedang menunaikan solat.
Malika menuju tempat wudlu. Ada satu kulah besar disisi dalam. Diikatnya rambutnya kebelakang dengan karet gelang, lalu diciduknya air dari kulah besar itu. Air cidukan pertama dihirupnya, membasahi kerongkongannya yang sudah sangat kering sejak dijalan tadi. Cidukan berikutnya membasahi telapak tangan, muka, tangan, begitu sejuk menyegarkan.
Dengan langkah buru-buru Lika memasuki Masjid, kemudian mengambil mukena yang disediakan pengurus di lemari usang disudut ruangan. Sepuluh menit kemudian, dia kembali ke lemari itu seusai solat. Dilipatnya mukena itu dengan hati-hati. Ketika hendak meninggalkan Masjid menuju tukang tambal ban diseberang jalan, dia terantuk pada dua anak gadis seusianya. Mereka tampak tertawa cekikikan sembari melongok keluar jendela tempat mereka mengaji. Malika penasaran, karena tampaknya dua anak perempaun itu menikmati sekali apa yang mereka lihat. Malika mencari tahu, namun kemudian dia geli sendiri karena dua anak perempuan itu ternyata sedang mengamati Feri yang tertidur dibangku panjang menunggu ban sepedanya selesai ditambal.
Entah sudah berapa lama mereka bersepeda. Feri memilih bersepeda dibelakang Malika untuk mengawalnya. Tetapi karena sepeda Malika tidak ada lampunya, mereka terpaksa bertukar sepeda. Mengendarai sepeda Feri jauh lebih nyaman dibandingkan mengendarai sepedanya yang sudah tidak layak pakai. Jok tempat duduknya empuk, pedalnya ringan dan stangnya nyaman ditangan. Kapan dia bisa membeli sepeda seperti ini. Rasanya berkilo-kilo akan terasa dekat dengan sepeda ini. Malika tersenyum-senyum sendiri.
“Lik! Jangan ngebut-ngebut, sepedamu berat sekali!”
Feri berteriak, mengingatkan Malika bahwa dia tidak sendiri. Ditolehnya kebelakang. Feri tampak kepayahan. Malika tertawa.
“Kita ke Mushola dulu atau langsung pulang Fer?!”
Malika melambatkan sepedanya saat memasuki gapura desa mereka.
“Ke Mushola dulu Lik. Paling tidak kita bisa bantu bersih-bersih kalau acaranya sudah selesai.”
“Tampaknya juga begitu Fer. Pengajian Akbar sudah selesai dari tadi!”
“Yah, kalau saja tadi tidak ada acara tambal ban!”
Feri menggerutu.
“Ye, siapa suruh kamu menyusulku!”
Malika membela diri. Feri mempercepat laju sepedanya, menjajari Malika.
“Karena orang tuamu khawatir Lik!”
“Ah, tidak mungkin! Bahkan mereka lupa aku sudah pulang apa belum!”
Malika tertawa pahit. Feri mendengus.
“Lik, nanti sepulang dari Mushola aku kerumahmu ya. Kau sudah selesai kan PR Matematika untuk besok pagi? Aku tidak paham!”
“Hmm…aku malah belum mengerjakan. Baiklah, nanti kita kerjakan bersama-sama. Tapi kamu pamit dulu sama Paman Husni.”
“Iya, Abi pasti membolehkan.”
Pukul sepuluh malam, mereka sudah sampai Mushola. Feri benar, pengajian sudah usai. Bahkan acara bersih-bersih pun tinggal tahap akhir.
“Kalian kemana saja?”
“Fer, kau tadi dicari Ustadz Alim.”
Teman-teman mereka langsung menyambut mereka didepan gerbang Mushola.
“Dimana Ustadz Alim sekarang?”
“Ada didalam, segeralah kesana.”
Setengah berlari Feri menghampiri Ustadz Alim. Mereka berbincang-bincang didalam. Cukup lama, bahkan sampai anak-anak pulang satu-persatu. Kecuali Malika . Dia menunggu didepan gerbang. Duduk dengan kaki menjulur kedepan. Nurul menemani dengan duduk disampingnya.
“Masih lama si Feri, Lik?”
Nurul menoleh kedalam sebentar-sebentar.
“Kenapa Nur? Kau mengantuk?”
Nurul menengguk berat.
“Kalau begitu pulanglah dulu. Biar aku menunggunya disini.”
“Sendiri?”
“Tidak apa-apa Nur, kau pergilah pulang, nanti orang tuamu marah!”
Dengan berat hati, Nurul melangkah pulang, meninggalkan Malika yang duduk di beranda Mushola. Sendiri.
Malika berdiri, mendekati sepeda yang dia sandarkan di pohon pepaya dekat Mushola. Dia ingat dua buku tulisnya dia masukkan didalam jok sepedanya. Dibukanya tali pengait jok sepedanya, lalu diambilnya buku tulis didalamnya.
Setengah jam kemudian Feri muncul dari dalam Mushola diikuti Ustadz Alim.
“Ayo pulang Lik! Kita jadi mengerjakan PR Matematika kan?”
Lika berdiri, lalu dengan muka tersenyum, disodorkan buku tulisnya kearah Feri.
“Aku sudah selesai mengerjakannya Fer. Kau bawa dulu bukuku. Tanyakan yang kau tidak paham di sekolah besok pagi.”
“Baiklah kalau begitu. Besok aku berangkat pagi Lik, aku jemput kamu jam enam. Kau tidak usah bawa sepeda sendiri...”
Malika tersenyum.
“Memangnya kenapa kalau aku pakai sepeda sendiri?”
“Terserah kau saja kalau mau menuntun sepeda seperti tadi!”
Malika tertawa lalu mengangguk.
***
Tepat pukul enam, Feri sudah sampai didepan rumah Malika. Dia turun dari sepeda. Seperti biasa, diketuknya rumah sahabatnya itu sampai tiga kali. Tak ada jawaban. Malika juga tidak tampak. Padahal biasanya dia yang paling semangat. Sudah berseragam rapi pagi-pagi sekali.
“Assalamu’alaikum...Malika?!”
Tak ada sahutan. Hanya terdengar sayup-sayup suara bayi menangis dari dalam rumah. Pasti suara Ani, adik Malika yang paling kecil.
Beberapa saat kemudian, muncul anak laki-laki dekil dari dalam rumah.
“Kakakmu mana Din?”
“Kak Lika tak ada dirumah Kak..”
“Sudah berangkat?”
Udin menggeleng.
“Tak sekolah apa dia hari ini? Kepasar bantu Emakmu?”
Udin menggeleng.
“Tak tahu Kak..”
Feri mengerutkan kening. Berpikir sejenak.
“Pakai seragam tak kakakmu tadi, Din?”
Udin kembali menggeleng. Feri kemudian sadar, anak sekecil Udin memang tidak bisa dimintai keterangan. Ah, Lika pasti sudah sampai di sekolah lebih dulu.
“Kau dirumah dengan siapa Din?”
“Adik-adik Kak. Emak dan Bapak tak ada.”
Feri terdiam cukup lama.
“Baiklah, kak Feri pergi dulu ya, hati-hati dirumah.”
Udin mengangguk, menyisakan tanda tanya di benak Feri.
Sekolah masih sepi ketika sepeda yang ditumpangi Feri memasuki halaman. Tanah yang berdebu menyambut kedatangannya. Feri menyandarkan sepedanya di samping sekolah, lalu dengan langkah tergesa, memasuki ruang kelasnya yang terletak paling ujung. Sepi, hanya ada Sarah yang bertugas piket kelas hari ini. Dia sedang sibuk menyapu ruangan, sehingga tidak menyadari kedatangan temannya.
“Astaghfirullah Fer, kau mengagetkanku!”
“Maaf..Kau sendiri Sar?”
Sarah kelihatan tak mengerti dengan pertanyaan temannya itu.
“Iya, memangnya kenapa?”
“Eng..Lika belum datang?”
Sarah menggeleng.
“Aku tiba disekolah ini paling dulu. Eh, tidak. Nomor dua setelah Pak Rais, penjaga sekolah kita!”
Feri menerawang.
“Kenapa Fer? Bukannya Lika selalu datang sama-sama kau?”
Feri mengangguk, tapi kemudian menggeleng.
“Mungkin dia ke pasar dulu bantu Emaknya berdagang. Mereka sedang butuh uang banyak. Bapaknya kalah judi tadi malam.”
Feri terhenyak.
“Tahu darimana kau Sar?”
“Tadi Subuh Bapaknya Lika kerumahku mau pinjam uang. Tapi tak diberi Ayahku.”
“Lalu?”
“Aku tak tahu Feri. Sebaiknya kita tunggu saja Lika. Mungkin sebentar lagi dia datang.”
Semenit, dua menit, Lika tak kunjung datang. Bahkan sampai sekolah usai, Lika tidak tampak. Dipapan absen, Lika tidak masuk tanpa keterangan. Feri merasa bodoh, karena sebagai sahabat terdekatnya, dia tidak tahu kenapa Lika tidak masuk sekolah.
Sepulang sekolah, Feri mampir kerumah Lika. Di teras, Emak Lika sedang menjemur gabah.
“Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam. Eh, kau Fer. Masuklah.”
Feri mengangguk.
“Lika ada Bik?”
Emaknya Lika berhenti menjemur gabah. Ditolehnya Feri sekilas, lalu menggeleng.
“Kemana Bik?”
“Ada dipasar. Coba kau kesana, dia sedang mengangkut sayuran tadi.”
Feri mengucapkan terimakasih sembari berpamitan.
Pasar tradisional hari ini ramai sekali. Bau ikan asin menyambut kedatangan Feri. Sudah lama dia tidak kepasar ini. Dia agak lupa letak kios tempat Emaknya Lika berjualan. Kalau tidak salah dekat pintu keluar, disebelah penjual es kelap muda.
Feri tersenyum saat dari jauh dilihatnya sepeda Lika disandarkan didekat kios. Bergegas Feri meghampiri. Tapi kemudian dia kecewa karena disana tidak ada Lika. Hana, adik perempuan Lika sedang mengangkut sayuran ditemani Udin, adik laki-lakinya.
“Kak Feri, Kak!”
Udin berteriak memberi laporan ke Hana. Hana menurunkan keranjang dari gendongannya.
“Ada apa Kak? Hendak beli sayuran?” tanya Hana dengan suara terengah-engah.
Feri menggeleng.
“Aku mencari kakakmu, Lika.”
Hana cepat-cepat menggeleng.
“Hana tak tahu Kak. Hana tak tahu Kak.”
Suara Hana tampak gugup, membuat Feri curiga.
“Jangan tanya Hana Kak, sungguh Hana tidak tahu.”
Feri mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. Dia tidak tega melihat wajah Hana yang sudah pucat pasi.
Feri memutuskan untuk kembali kerumah Lika. Tanpa diduga, disana dia bertemu dengan Bapak Lika. Bau alkohol masih tercium dari mulut orang tua itu. Feri teringat kata-kata Ustadz Alim semlam, agar dia hati-hati dengan Bapknya Lika.
“Sudahlah, tak usahlah kau mencari Lika.. Dia sudah pergi jauh..jauh!”
Jawaban Bapak Lika membuat Feri terhenyak.
“Kemana Pak?”
“Ah..jangan tanyakan lagi kemana! Aku juga tidak tahu. Dia anak brengsek!”
“Lika tidak seperti itu Pak!”
“Heh, tahu apa kau, aku Bapaknya!”
Bapak Lika mulai membentak dengan mata melotot. Nyali Feri mulai ciut. Sebelum keadaan memanas, Feri memilih untuk mohon diri.
***
Tiga tahun berlalu. Kepergian Lika masih menyisakan seribu tanya dibenak Feri. Sejak itu Lika tidak pernah muncul. Feri tahu keluarga Lika menyembunyikan sesuatu. Tapi dia tidak tahu, dan dia masih sangat kecil saat itu. Dia tidak punya keberanian untuk melawan.
Hanya kenangan-kenangan yang tersisa di sepanjang perjalanan pertemanan mereka.
“Pakailah kerudung Lik, kau pasti akan kelihatan lebih cantik!”
“Ah, aku tak mau kalau niatku berkerudung seperti itu… supaya cantik!”
Lika tertawa, Feri mendengus.
“Lik, kata Ustadz Alim, berkerudung itu wajib untuk wanita muslim yang sudah akhil baligh!”
“Ah, Ustadz Alim lagi! Kau seperti orang tersihir Fer!”
“Tapi itu sudah ada dalam Al-Quran Lik!”
“Aku tahu...Kalau aku sudah siap, tak usah kau suruh sudah kupakai kerudung iu Fer!”
Feri memilih diam dan mengakhiri kata-katanya. Lika memang perempuan mandiri, bahkan terkadang susah diatur. Pendiriannya teguh. Bahkan terlalu prinsipil untuk anak es em pe seperti dia.
“Fer, kau tahu anak perempuan di Masjid dekat tambal ban tadi?”
“Yang mana Lik?”
“Yang pakai kerudung coklat.”
Feri berpikir sejenak, mengingat-ingat.
“Oh, Latifah maksudmu? Dia anak Haji Imam, pendiri Masjid At-Taqwa itu Lik.”
“Kau kenal dia?”
“Dia pernah kerumahku sekali, dengan Ustadz Alim.”
Lika tampak terkejut.
“Hah? Ustadz Alim? Kenapa mereka kerumahmu?”
“Iya, Latifah kan keponakan Ustadz Alim. Aku tidak tahu. Mereka berbincang dengan orang tuaku, Lik.”
Lika mengangguk-angguk dengan tatapan menerawang, entah apa yang dipikirkannya. Feri juga urung bertanya karena dia sudah terlalu capek saat itu.
Feri menggulung tikar usai acara pengajian rutin di Mushola SMA. Sebentar lagi ujian akhir, sekolah mengadakan doa bersama untuk kelulusan para siswanya. Entah kenapa semangat belajarnya menurun akhir-akhir ini, padahal pertempuran final sudah diambang pintu. Andai masih ada Lika, dia pasti bisa memberinya semangat.
“Aku tu perempuan Fer, anak sulung, adikku banyak. Kedua orang tuaku menentang aku sekolah tinggi-tinggi. Tapi aku tidak lantas menyerah!”
Lika benar. Dia selalu tampak bersemangat menuntut ilmu. Berangkat sekolah pagi-pagi. Mencari biaya sendiri, karena orang tuanya tidak mau tahu biaya pendidikan Lika.
“Kata Rasulullah, menuntut ilmu itu wajib Fer, apalagi kamu cuma dua bersaudara. Orangtuamu mampu.”
“Tapi aku tidak sepandai kamu Lik!”
Saat itu Lika tertawa mendengar komentar Feri.
“Assalamualaiku Akh Feri...”
Feri tersentak. Dihadapanya sudah ada Latifah, teman satu kelasnya.
“Wa’alaikumsalam...ada apa?”
Latifah menunduk malu, sembari tersenyum-senyum, membuat Feri jadi tidak enak.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu?”
“Akhi, nanti akhi pulang jam berapa?”
Feri melihat jam di dinding. Pukul tiga sore.
“Eng...satu jam lagi, solat Ashar disini sekalian...kenapa dek?”
Latifah tersenyum tertahan.
“Begini akhi, nanti pulangnya sama-sama saja, Ifah mau mampir ke rumah akhi.”
Feri tersentak.
“Kamu bawa sepeda, dek?”
Ifah menggeleng pelan. Feri berpikir sejenak. Sudah lama sekali dia tidak pernah mengantarkan wanita yang bukan mukhrimnya. Terakhir adalah Lika. Itu berarti sudah tiga tahun yang lalu. Bibir Feri terasa kelu, kata-kata penolakannya tertahan di tenggorokan.
“Maaf dek..aku tidak bisa..” akhirnya kalimat itu terucap juga.
“Kenapa?”
“Kita buka mukhrim,”jawab Feri pendek.
“Tapi kenapa dengan Malika tidak apa-apa?!” suara Ifah menjerit tertahan. Parau.
“Itu dulu..”
“Memanglah Malika lebih patut dikasihani daripada aku ya Kak.  Assalamu’alaikum..”
Ifah berbalik dengan muka merah, meninggalkan rasa tidak enak dihati Feri.
“Ini akibatnya kamu sok mandiri Lik! Tadi kalau kau berangkat bersamaku dengan sepedaku, pasti tidak ada acara tambal ban seperti ini!”
“Aku tidak mau merepotkan orang Fer!”
“Kalau kau hilang seperti tadi, itu namanya merepotkan Lik.”
“Aku tidak hilang. Aku cuma istirahat, capek menuntun sepeda.”
“Besok kita berangkat sama-sama saja..”
“Fer..tapi kata Ustadz Alim, tidak baik karena kita bukan muhrim.”
Feri mendengus mendengar ucapan Lika.
“Kalau begitu kau jalan kaki saja sepuluh kilometer. Bagaimana?”
“Aku tidak mau!”
Feri tertawa. Entah kenapa saat itu Feri tidak merasa penting untuk bertanya kemana Lika sepulang sekolah, sampai dia terlambat pulang malam itu. Dan sekarang, sahabatnya itu lenyap bagai ditelan bumi.
Teramat cepat dan masih menyisakan seribu tanya.
Habis Magrib Feri baru tiba di rumah. Dia tadi berhenti dulu di Mushola untuk membantu Ustadz Budi mengajar ngaji anak-anak TPA. Ustadz Alim sudah tidak disana cukup lama, digantikan Ustadz Budi, lulusan Pesantren Jawa Timur.
“Assalamualikum Umi..”
“Wa’alaikumsalam, kemana saja kamu Fer? Ifah menungguimu sejak tadi.”
Ibunya menggerutu menyambut kedatangan anaknya.
‘Tadi sekalian solat Magrib di Masjid, Umi.Ifah mana?”
“Sudah pulang. Kamu terlalu lama..”
Kamar yang sepi. Feri membaringkan badannya seusai solat Isya. Tatapannya jauh menerawang ke langit-langit kamar.
“Ifah itu cantik ya, Fer?”
Masih terekam jelas kata-kata pujian Uminya untuk Ifah sore tadi.
“Dia juga dari keluarga baik-baik…”lanjut Uminya.
Ada yang menghimpit dadanya saat mendengar pujian itu.
“Fer, anak Haji At-Taqwa itu manis ya..”
“Haji Imam, Lika! Masjidnya At-Taqwa!”
“Iya, maksudku anaknya Haji Imam. Manis ya?”
“Latifah.. Dia berkerudung, alim, santun. Aku suka caranya berpakaian..”
Lika berucap sembari menatap langit. Saat itu mereka berjalan kali, sepulang dari mengaji bersama di Mushola.
“Suatu saat aku ingin punya istri seperti dia, Lika. Sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salihah. Benar, kan?”
Lika mengangguk sembari tersenyum.
“Amin…’
“Kalau kau Lika?”
“Aku tidak ingin punya suami! Aku takut akan seperti Bapakku!”
“Eh, kau tak boleh begitu!”
Hening.
Percakapan itu bagai piringan hitam yang mengantarkan Feri pada benang merah. Ifah, dia dulu mengaguminya. Ifah tampak sangat sempurna dimatanya, bahkan dia merasa jauh tidak pantas untuk seorang Ifah. Dulu dia selalu bermunajah. Tapi sekarang saat doanya terkabulkan, dia merasa takut. Ternyata bulan itu hanya indah dilihat dari kejauhan. Tampak begitu bercahaya dan halus. Tapi ketika dilihat dari dekat, penuh lubang mengerikan.
“Kata Emakku, jangan minta pada Allah apa yang kita inginkan, tapi mintalah pada Allah, apa yang terbaik bagi kita...”
Suara Lika masih terdengar, sayup-sayup merasuki rongga telinganya, lalu mengantarkan embun dikelopak matanya.
Entah kenapa, dia begitu merindukan sahabat kecilnya itu.
“Nak, aku dan ibumu dulu juga nikah muda.. Jadi usia itu bukan penghalang Nak. Kau juga tetap bisa kuliah. Kurang apa lagi Ifah itu?”
“Nak, apa kau tak bangga jadi menantu Haji Imam, orang yang dihormati di desa ini?”
Feri hanya bisa diam. Diam. Padahal waktu tak bisa menunggu.
“Allah...berikan yang terbaik untukku..karena aku tahu, yang kuinginkan belum tentu baik bagiku. Ya Allah yang Maha Memudahkan, mudahkanlah urusanku, jangan Engkau persulit ya Allah. Allahumma yaa muyasir yasirli wala tu’asir..  “
Suatu hari di pertengahan bulan Agustus, keputusan itu harus dibuatnya. Ijasah SMA sudah ditangan. Kalau teman-teman yang lain tegang dengan tes ujian masuk perguruan tinggi, maka Feri sangat tegang dengan keputusannya untuk menikah dengan Ifah dua minggu lagi.
Aku masih sangat muda! Ah, tapi Abi dan Umi tidak mau tahu.
“Pak Husni, kita sendiri kan tahu, di desa kita, untuk anak perempuan, lulus SMA itu sudah dianggap cukup umur untuk menikah.”
Haji Imam membuka percakapan seminggu sebelum lamaran kemarin. Abi tampak mengangguk-angguk. Siapa yang berani menentang Haji Imam yang disegani itu?
Dua minggu sebelum menikah, Feri mengalami mimpi yang aneh. Dia seperti berada di sebuah pantai yang sepi dan sakral. Dia sepertinya sedang berdiri ditepi pantai, menunggu perahu datang. Entah hendak pergi kemana dia.
Tidak lama kemudian perahu yang dinanti datang, sebuah perahu sederhana, tetapi bercahaya. Entah terbuat dari apa perahu itu, tetapi seperti kaca. Semakin dekat ke bibir patai, semakin Feri dapat melihat jelas sosok yang berdiri di perahu itu. Seorang perempuan berkerudung putih. Wajahnya cantik, bersih dan matanya sayu. Perahu itu hampir menepi. Perempuan itu tersenyum santun.
“Lika...?”
Perempuan itu menganguk pelan. Sebuah senyum lebar mengembang di wajah Feri. Perempuan itu mengulurkan tangan, mengajaknya turut serta ke perahu yang ditumpanginya.
Feri menyambut uluran tangan Malika. Nyaris sampai, ketika tiba-tiba perahu besar dan mewah yang entah darimana datangnya, menerkam perahu yang ditumpangi Lika. Tidak jelas benar siapa pengendara perahu itu. Hanya dua bayangan orang yang dlihat Feri. Sepertinya seorang perempuan dan seorang laki-laki. Yang perempuan perawakannya seperti Ifah, tapi dia tak yakin benar.
Perahu besar dan mewah itu melaju kencang. Suara berdebum keras menghantam perahu kecil didekatnya. Perahu yang ditumpangi Lika terombang-ambing sebelum akhirnya tenggelam. Feri menjerit sekuat tenaga.
“Feri..! Bangun Nak!!”
Feri terbangun bersimbah peluh. Nafasnya naik turun, dan jantungnya berdegup kencang.
“Istighfar Nak..”
Abi, Umi dan Rina, adik perempuan Feri sudah berada di samping Feri.
“Astaghfirullah..”
Rina menyodorkan segelas air putih yang habis dalam sekali teguk.
Beberapa menit kemudian dia mulai tenang. Nafasnya mulai teratur. Abi dan Rina kembali kekamar masing-masing. Tinggal Umi yang berada disisiya.
“Feri tidak apa-apa, Umi. Umi kembali tidur saja..”
Umu menepuk bahu anak laki-lakinya.
“Fer...kamu masih memikirkan Lika?”
Pertanyaan Umi yang tiba-tiba itu mengejutkan Feri. Dia diam sebentar, lalu mengangguk pelan. Umi menghela nafas berat.
“Dia sahabat terbaik aku Umi. Teman seperjuangan Feri..”
“Tidak lebih?”
“Maksud Umi?”
Umi menatap dalam-dalam putranya, berusaha mencari jawaban paling jujur dari kedua sinar matanya. Tidak ada jawaban disana. Karena dia sadar, mata putranya sudah tidak pernah bersinar lagi semenjak perempuan sahabatnya itu pergi..
“Fer...tinggal hitungan hari kamu akan menjadi suami Ifah. Jadi lupakan..”
Umi tidak melanjutkan kalimatnya. Dia beranjak meninggalkan kamar Feri setelah mematikan lampu. Feri sempat menangkap bulir-bulir bening yang mengalir dipipi Uminya.
Kini tinggal Feri sendiri dalam kegelapan.
Menerawang.
“Lik, kamu tidak seharusnya berkata kasar pada bapakmu. Kamu boleh benci, tapi berusahalah bersikap sopan didepan beliau..”
“Berarti aku harus pura-pura tidak membencinya?”
Feri tak menggeleng, tak juga mengangguk.
“Mungkin ucapan bisa bohong. Tapi hati tidak bisa dibohongi, Fer.”
Ucapan Lika dulu masih diingatnya. Yah, hati memang tidak bisa dibohongi..
Feri bertekad, esok pagi dia harus membicarakan hal ini pada Ifah. Esok dia akan pergi kerumah Ifah. Sendiri.
Sampai terdegar Adzan Subuh, Feri belum juga bisa memejamkan matanya. Pikirannya semakin galau. Akhirnya dia memutuskan untuk ke Mushola. Diambilnya sarung dan peci dari atas meja.
Subuh yang dingin dan sepi. Diluar kabut teramat tebal, lalu menjelma butiran-butiran embun yang membasahi pakaian Feri. Sedangkan langit masih berwarna biru tua, tanpa bintang-bintang bertaburan. Entah kemana mereka pergi.
Air wudlu itu begitu dingin menyegarkan, membasahi sampai ke Qalbunya.
Subuh ini hanya ada sedikit jamaah. Semua laki-laki. Satu Imam, Ustadz Budi, dan tiga makmum, termasuk dirinya. Tampaknya seruan Lebih baik solat daripada tidur tidak mengusik kelelapan tidur penduduk.
Usai solat, Feri tak jua beranjak dari tempatnya. Bibirnya masih komat-kamit melafalkan asma Allah. Sementara makmum yang lain sudah mulai tadarus Al-Quran di dinding tepian Mushola.
“Ya Allah..”
Doa Feri tercekat ditenggorokan. Begitu banyak kalimat yang hendak dia sampaikan. Begitu banyak kesahnya, sehingga semua terasa begitu menyesakkan dada.
“Allah..”
Bibirnya kelu, tak mampu merangkai kata. Tapi ia yakin, Dia Maha Mengetahui setiap apa yang ada di hati makhluknya..
Ketika Feri hendak melangkahkan kaki meninggalan Mushola, terdengar sayup-sayup suara isak tangis dari bilik jamaah putri. Rasa penasaran mengguncang batinnya. Dengan hati-hati dia memasuki ruangan. Tampak Ifah sedang bersimpuh dengan air mata berlinang. Dia masih memakai mukena, usai menunaikan solat Subuh ternyata. Feri hendak berbalik saja meninggalkan Ifah disana. Dia tidak ingin mengusik pengaduannya dengan Sang Khalik.
Atas seijin Allah, ternyata Ifah mengetahui keberadaan Feri. Dia menoleh lalu memanggil Feri dengan suara parau.
Feri menoleh, lalu berdiri mematung. Dilihatnya wajah Ifah sembab sehabis menangis.
“Akhi Feri..bisa tinggal sebentar?”
Suara itu begitu memohon, mengantarkan Feri pada anggukan kepala. Feri duduk didepan pintu, menjaga jarak. Apalagi ini di Mushola, dia tidak ingin ada fitnah.
“Ada apa Ifah? Kau ke Mushola sendiri?”
Ifah mengangguk.
“Akh Feri, sudah beberapa hari ini aku tidak bisa tidur. Aku selalu bangun menjelang Subuh.”
Ifah berhenti sejenak, membenarkan letak dudukya.
“Akh Feri, maafkan aku sebelumnya karena tidak menceritakan hal ini dari dulu.”
Suara Ifah terdengar begitu lirih, namun terasa begitu menusuk.
“Maksud Ifah apa?”
“Tentang Lika..”
Feri terperanjat, lalu menegakkan badannya.
“Lika? Kau tahu dimana Lika sekarang?”
Ifah menggeleng keras, diikuti helaan nafas kecewa Feri.
“Lalu apa yang kamu tahu tentang Lika?”
Suara Feri meninggi membuat Ifah tergagap.
“Sungguh semua itu bukan salahku Akhi…aku tidak berani mengutarakan ini. Aku memang iri dengan Lika, tapi aku tidak bermaksud jahat kepadanya..”
Ifah terisak. Wajah Feri memerah karena marah. Bibirnya tidak berhenti beristighfar, jangan sampai emosinya meluap.
“Sekarang ceritakan semuanya padaku, Ifah..”
Ifah menggeleng.
“Maaf aku tidak bisa..aku tidak tahu..”
“Ceritakan Ifah…”
Ifah terdiam. Dia masih sesenggukan.
“Umi Akh Feri yang lebih berhak menceritakan semua..”
Kalimat Ifah yang terakhir membuat dia semakin tak mengerti. Apalagi ini? Umi? Apa sebenarnya yang terjadi?
Tidak ada gunanya membujuk Ifah lagi. Sekarang yang ada di benak Feri adalah segera sampai rumah dan menemui Umi.
“Kau mau pulang denganku tidak Ifah? Apa aku suruh sopirmu menjemput?”
Ifah menggeleng pelan. Feri sebenarnya tidak tega meninggalkan Ifah sendiri dalam keadaan menangis sesenggukan seperti ini. Sejak dulu dia memang paling tidak bisa melihat wanita menangis.
“Tidak usah Akh...aku tidak apa-apa..”
“Assalamualaikum...”
Feri mengucapkan salam, lalu setengah berlari meninggalkan Mushola.
Rumah sepi. Abi sudah berangkat ke tempat kerja, Rina pasti sudah berangkat sekolah. Dan Umi, dia sendiri tidak tahu kemana. Tidak biasanya Umi bepergian sepagi ini. Feri langsung menuju kamar, lalu merebahkan tubuhnya keatas kasur. Matanya mengantuk sekali saat ini. Tapi dia tidak ingin terpejam sebelum Umi datang.
Sinar matahari yang halus dan panjang-panjang menerobos masuk melalui jendela kamar Feri yang terbuka. Feri terbangun, silau. Rupanya dia tertidur tadi. Suara ketukan di pintu kamarya semakin keras, membuatnya mau tak mau bangkit dari tempat tidur.
“Feri…Ifah mencarimu..”
Feri membuka pintu. Umi sudah berdiri di depan pintu.
“Iya, Umi?”
“Ifah mencarimu.”
“Iya. Tunggu sebentar Umi, aku cuci muka dulu.”
Lima menit kemudian Feri sudah berada di ruang tamu. Ifah sudah duduk manis disana. Bajunya rapi sekali, serasi dengan kerudungnya. Dari pakaian yang dia pakai, semua tidak ada yang murah harganya, sangat mencerminkan kalau dia anak orang berada.
“Akh Feri, sebaiknya aku katakan ini sebelum kita menikah. Aku hanya mau jujur dan terbuka pada Akh Feri...”
“Iya Ifah, katakanlah..”
“Tentang Lika yang aku bicarakan tadi di Mushola..”
“Iya teruskan..”
“Aku lupa itu tanggal berapa, tapi yang jelas malam hari setelah pengajian Akbar di Mushola desa kita...”
Ifah menghela nafas, Feri mendengarkan dengan seksama.
“Akh Feri pasti sudah tahu mengenai ayah Lika..”
Feri mengangguk.
“Juga tentang Ustadz Alim yang menaruh hati pada Lika..”
“Hah?!”   
Feri terlonjak. Dia tidak percaya dengan kata-kata Ifah yang baru saja didengarnya.
“Iya Akh Feri. Ustadz Alim itu Paman saya. Dan saya kenal benar dengan wataknya.”
“Paman sudah mempunyai tiga istri saat itu. Tapi dia ingin mencari istri lagi..”
Feri menyipitkan matanya, menatap Ifah dengan tatapan kosong. Ifah menundukkan pandangannya. Sebentar-sebentar dia menoleh ke belakang, kalau-kalau Umi Feri datang dari dapur membawa minuman. Dia tidak ingin ada perpecahan terjadi di keluarga calon suaminya.
“Ustadz Alim datang menemui abiku perihal Lika, lalu abi menyuruh paman menemui keluarga Lika..”
“Tapi Lika masih SMP!”
Ifah mengangguk.
“Istri ketiga Paman juga seumuran dengan Lika saat itu..”
Feri menghela nafas. Kepalanya mulai berdenyut tak habis pikir. Kemudian dia ingat, pantas saja Lika terlihat kurang senang, kalau dia membicarakan Ustadz Alim, bahkan memujinya habis-habisan.
“Lalu?”
Ifah mengurungkan kalimatnya, ketika dilihatnya Umi Feri datang dengan nampan berisi dua cangkir teh dan sekaleng biskuit.
“Ini Umi bawakan minuman buat kalian. Silahkan ngobrol disini, Umi mau ke rumah kamu dulu Ifah,  katamu Umi kamu sudah menunggu..”
Ifah mengangguk sembari tersenyum.
Sepeninggal Umi Ifah menghela nafas lega, diikuti Feri.
“Ada acara apa Umi kamu mengundang Umiku?”
Ifah tertawa kecil.
“Tidak ada Akh Feri, hanya supaya kita bisa lebih leluasa ngobrol saja..”
Mereka tertawa sebentar, mencairkan ketegangan.
“Lalu, bagaimana tanggapan Lika atas kedatangan pamanmu?”
“Keluarga Lika setuju sekali. Terutama ayah Lika. Tetapi Lika tidak. Dia masih ingin sekolah. Paling tidak lulus SMP dulu..”
Feri mengakui kebenaran ucapan Ifah. Dia tahu benar kegigihan Lika untuk bersekolah. Seorang anak perempuan, tapi semangatnya melebihi anak lelaki seperti dia. Subhanallah…
“Lalu malam itu...sebelum Lika menghilang..aku mendengar abi sedang berbicara dengan Umi Akh Feri mengenai Lika dan Ustadz Alim.”
“Tentang apa?”
“Aku tidak tahu Akhi, aku juga sudah ngantuk sekali malam itu.. Tapi pembicaraan mereka serius sekali, dan aku juga mendengar ayah Lika dan masalah hutang, kalah judi, disebut berulang-ulang..”
Feri mengernyitkan kening.
“Lalu Ifah...kau tahu sekarang Lika dimana? Jujurlah padaku Ifah..”
Ifah menggeleng. Feri terus memaksa.
“Oke.. begini Ifah..kau tahu kita akan segera menikah kan?”
Ifah mengangguk.
“Ketahuilah Ifah, aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan menikah sebelum aku menemukan Lika…”
Ifah terperanjat. Raut mukanya memerah, kesal dan tidak percaya.
“Jadi keputusannya ada padamu Ifah, apakah kita akan cepat menikah, atau terus ditunda…”
Ifah gelisah. Bibirnya bergetar. Tangannya memainkan ujung kerudungnya higga kusut. Feri menangkap kegelisahan itu dengan penuh pengharapan, Ifah akan mengatakan keberadaan sahabat kecilnya. Cukup lama Feri menunggu kediaman Ifah. Sampai suara adzan Luhur terdengar syahdu dari Mushola sebelah. Feri bangkit dari kursinya, menuju Mushola. Sudah habis kesabarannya menunggu kalimat dari Ifah.
“Akh Feri..”
Feri menoleh. Ifah menelan ludah, mengumpulkan keberanian.
“Akh Feri benar-benar ingin bertemu Lika..?”
Feri mengangguk sembari lalu ke tempat duduknya.
“Sungguh aku ingin bertemu dengan Lika. Dimana dia?”
“Setahun yang lalu aku mendengar kabar bahwa Lika berada di Jogja..”
“Kau punya alamatnya..?”
Ifah mengangguk.
“Biar saya catatkan..”
Ifah mengambil tissue makan diatas meja, dan mulai menuliskan alamat dimana Lika berada.
“Terimakasih Ifah. Aku akan kesana secepatnya..”
Ifah berusaha tersenyum, mengimbangi kegembiraan Feri. Meski hatinya terluka. Dia takut kehilangan Feri..
***
Feri sampai di terminal Giwangan, Jogjakarta, pukul enam pagi. Udara begitu dingin pagi ini. Dibenarkan letak jaket dan tas ranselnya. Dia menepi, lalu mengambil secarik kertas dari saku celananya. Alamat Lika yang diberikan Ifah kemarin ditulisnya ulang diselembar kertas, dengan huruf yang lebih besar.
Terminal mulai ramai, dan dia masih tidak tahu bus apa yang menuju daerah yang dimaksud. Bahkan mendengar namanya saja baru sekali ini. Feri memutuskan untuk membeli minuman di warung sekitar terminal, sembari bertanya-tanya alamat pada pemilik warung.
“Pundi Mas? Wonosari? Oh, itu daerah Gunungkidul..”
Feri terus menyimak penjelasan ibu setengah baya pemilik warung itu.
“Gunungkidul? Dari sini naik Bus apa, Bu?”
“Oh, masnya naek bus besar aja jurusan Jogja-Wonosari. Itu disebelah sana…”
Ibu itu menunjuk deretan bus-bus, yang salah satu diantaranya bertuliskan Rawit Mulyo, jurusan Jogja-Wonosari.
“Kira-kira berapa jam Bu?”
“Cepet kok Mas, kalau Busnya ngebut ya empat puluh lima menit sampai..”
Tanpa berlama-lama lagi, Feri mengucapkan terimakasih, lalu berpamitan setelah membayar ongkos minuman.
Bus Rawit Mulyo yang ditumpanginya tidak begitu penuh. Bus bergerak perlahan, kernet Bus mencari penumpang. Perasaan Feri campur aduk. Benarkah dia akan bertemu dengan Lika? Dia masih ingat penentangan Uminya kemarin saat dia mengutarakan maksudnya untuk mencari Lika. Hampir saja dia gagal berangkat. Untung Ifah datang dan menjelaskan masalahnya. Bahkan keikhlasan Ifah membuat Feri terharu. Ifah akan rela seandainya nanti Feri berubah pikran untuk menikah dengan Lika..
Ah, dia tahu betul sebenarnya gadis itu tidak rela. Tapi Lika benar, hati memang tidak bisa dibohongi, dan dipaksa..
Bus yang ditumpangi Feri semakin merayap ketika jalan menanjak cukup curam saat melintasi Bukit Bintang, nama yang diketahuinya dari penumpang dibelakangnya.
“Mas, besok malam minggu ke Bukit Bintang ya..”
Ujar si wanita sembari menunjuk ke luar jendela. Feri ikut menatap keluar jendela. Ternyata yang dimaksud Bukit Bintang, adalah kawasan dimana kita bisa melihat view kota Jogja dari atas. Kota Jogja terlihat dari atas, dengan atap-atap rumah dan bangunan yang terlihat kecil-kecil bagai replika.. Sayang pagi ini berkabut. Feri bisa membayangkan, kalau malam hari, pastilah Bukit Bintang ini indah sekali, melihat pesona lampu-lampu kota Jogja dari atas.
“Turun mana, Mas?”
Feri tergagap. Bapak tua disebelahnya ternyata mengamatinya sejak tadi.
“Wonosari Pak..”
“Oh, saya juga. Jenengan Wonosarinya mana?”
“Saya Pak? Eng.. sebentar..”
Feri kembali mengeluarkan contekannya dari dalam saku.
“Eng.. Desa Kepek..”
“Ow, berarti nanti Mas turun di Siyono ya?”
“Eh, saya Pak?”
Bapak itu tampak bingung, lalu mengangguk.
“Mas bukan orang asli sini, ya?”
Feri mengangguk.
“Mas nanti turun di Siyono saja, terus naik angkot biru kearah kantor pos. Coba saya lihat alamatnya..”
Feri menyodorkan kertas yang sudah kumal dari sakunya.
“Oh, ini Kepek Satu mas, iya saya tahu toko Tunas, nanti Mas bilang saja turun toko Tunas, terus jalan kaki masuk ke jalan belakang toko. Mas tanya saja nama pemilik rumahnya.”
Feri mencoba mencatat keterangan bapak itu ke memorinya. Diucapkannya terimakasih berulang-ulang.
”Rumah saudara ya Mas?”
Feri mengangguk asal.
Setengah jam kemudian kernet Bus berteriak, memberitahukan bahwa Bus sudah sampai Siyono. Satu persatu penumpang turun. Feri beranjak dari tempat duduknya, diikuti Bapak tua disebelahnya.
“Sudah sampai Mas. Nah, jenengan naik angkot warna biru itu, disana..”
Bapak itu menunjuk kearah angkot-angkot warna biru yang berjejer menunggu penumpang.
“Terimaksih Pak..”
Sepuluh menit lamanya angkot warna biru itu tidak kunjung jalan. Ternyata dimana-mana sopir angkot tidak mau rugi. Tidak berangkat sebelum penumpang penuh. Pukul delapan kurang dua menit, akhirnya Feri tiba di depan Toko Tunas. Toko baru saja mulai buka. Tampak pelayan toko sibuk membuka rolling door. Feri mendekat dan bertanya.
“Oh, Rumah Bapak Alim dari sini lurus saja Mas. Nanti ada pertigaan belok kiri. Kira-kira empat rumah, kanan jalan. Kalau bingung, tanya lagi saja..”
“Terimakasih Pak..”
Matahari bersinar cerah, mengiringi perjalanan Feri menemui Lika. Ternyata pertigaan yang dimaksud lumayan dekat. Dari sini, belok kiri. Feri mengingat-ingat.
 Rumah itu tidak mewah. Cukup sederhana. Di depan terdapat pohon jambu air yang sedang lebat berbuah. Sedangkan didekatnya terdapat pohon jambu biji, dan dibelakangnya berderet bunga mawar kecil-kecil. Rumah itu kelihatan sepi dengan pintu tertutup. Pagarnya terkunci. Tapi apalah arti pagar kayu dengan kunci kayu pula. Pasti setiap orang bisa masuk dengan lompatan.
Feri mengucapkan salam tiga kali sebelum pintu akhirnya dibuka. Dari dalam menyembul sosok perempuan setengah baya.
“Mencari siapa, Mas?”
Ibu itu membuka pagar.
“Ini benar rumah Ustadz Alim?”
Ibu itu menatap Feri lama sambil mengangguk samar.
“Iya benar..Mas siapa, dari mana, dan ada perlu apa dengan suami saya?”
Feri terperanjat. Setahunya istri Ustadz Alim adalah Umi Sakinah, dan bukan ibu ini. Tapi kemudain dia ingat kata-kata Ifah, bahwa Ustadz Alim beristri banyak.
“Eng..bisa saya bertemu dengan Ustadz, Bu?”
Ibu itu tampak tidak senang, karena Feri tidak menjawab pertanyaannya.
“Maaf Bu sebelumnya, tapi saya ada perlu penting dengan Ustadz Alim..”
Ibu itu menatap Feri curiga, lalu katanya ketus:
“Suami saya sudah meninggal seminggu yang lalu.”
“Maaf, Bu?”
“Iya. Saya masih berkabung. Ada perlu apa dengan suami saya? Apa suami saya masih meninggal hutang?”
Feri menggeleng.
“Bukan Bu. Saya mau tanya tentang keberadaan Lika. Malika, teman saya..”
Ibu itu terdiam. Keningnya berkernyit tujuh lipatan.
“Oh maaf Mas, saya tidak tahu. Maaf saya sedang menanak nasi dibelakang.”
Tanpa basa-basi lagi ibu itu meninggalkan Feri. Dari dalam terdengar suara anak kecil menangis keras sekali.
Feri tidak juga beranjak. Dia terus mengetuk pintu. Akhirnya ibu itu kembali lagi kedepan.
“Mas, kalau Anda tidak bisa sopan, saya bisa panggil tetangga untuk mengusir Anda..!!”
“Bu, tolong, saya hanya ingin bertemu Lika!”
Ibu itu mendengus sebal, masuk kedalam rumah, lalu kembali dengan menggendong anak perempuan kecil yang sedang menangis.
“Tanyakan saja pada dia!”
Ibu itu menurunkan gadis kecil itu dengan kasar. Kontan  saja tangis anak itu bertambah keras. Feri berusaha menangkap anak itu, dan menyelamatkannya dari hujanan cubitan Ibu yang mulai kalap karena anak itu tak kunjung berhenti menangis.
“Bu, dia anak kecil!”
Feri mulai kesal dengan sikap ibu itu.
“Kalau begitu ambil saja anak itu. Aku tidak sudi mengurusya. Ibunya saja selalu melawan padaku!”
“Dia anak Lika..” lanjut ibu itu pelan.
Sebelum Feri bertanya lebih jauh, ibu itu berlari kedalam, lalu membanting daun pintu dengan keras.
Suasana hening. Anak itu berhenti menangis. Tinggal isaknya masih terdengar sesenggukan. Dia tampak bingung, menatap penuh iba kearah Feri. Seperti tersadar, ada makhluk mungil didepannya, Feri membungkuk. Diusapnya kepala gadis itu pelan-pelan. Gadis kecil itu menurut. Feri menatapnya haru. Matanya bening dan berkaca-kaca, hidungnya mungil dan merah habis menangis. Rambutnya dikuncir dua, tetapi terlihat acak-acakan. Sedangkan rok mini yang dipakainya tampak kotor. Feri menduga, ibu itu pastilah malas merawat anak manis ini. Sekilas wajah mungil itu mengingatkan pada sosok Malika.
Tapi..benarkah dia anak Malika?
“Siapa namamu, Nak?”
Gadis itu masih sesenggukan.
“Nida..”
Serta merta dipeluknya gadis kecil itu.
“Jangan takut sayang, ada Om disini. Nida mau cari ibu?”
Awalnya gadis kecil itu diam, tapi akhirnya menghambur ke gendongan Feri.
***
Jogja berkabut.
Pagi benar bus yangg ditumpangi Feri meninggalkan kota Jogja, meninggalkan harapannya yang pupus sia-sia. Tiga tahun lalu, sudah digariskan, menjadi pertemuan yang terakhir dengan Lika.
“Om..Nida mau minum..”
Feri menoleh kearah gadis kecil disampingnya, lalu tersenyum. Diambilnya sebotol minuman dari dalam ransel. Gadis kecil itu minum pelan-pelan.
“Lika itu istri termuda Bapak. Saya tidak tahu kenapa Bapak mau menikahi gadis ingusan dan kasar seperti dia..”
“Lika itu ditukar Bapaknya dengan uang untuk membayar hutang karena kalah judi..!”
Feri menatap lurus kedepan. Kata-kata ibu itu kemarin masih jelas menusuk telinganya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Lika saat itu.
“Lika meninggal tiga bulan yang lalu, tenggelam di pantai Siung. Entah dia sengaja bunuh diri atau tidak, saya tidak tahu..”
Feri menghela nafas. Tidak mungkin kalau Lika bunuh diri. Atau sudah demikian putus asanya dia? Feri menatap gadis kecil yang duduk disampingknya. Nida Feriyani namanya. Feri tersenyum. Ternyata Lika masih mengingatnya..
“Nida, Umi Nida sudah ada disurga, jadi Nida sekarang tinggal sama Om...Nida mau kan jadi anak Om?”
Nida menatap lama kearah Feri, tidak mengerti apa yang diucapkan Feri. Feri hanya tersenyum penuh haru. Dikecupnya kepala gadis kecil itu.
Semoga Lika mau memaafkannya karena terlambat datang.
Feri meninggalkan kota Jogja. Meninggalkan senyum Lika diawang-awang.

Nb: kalau panjang kayak gini cerpen bukan ya hehehe

Mezaluna

Mezaluna

Oleh: Ade Nilasari


Pukul sebelas malam, semua peserta Masa Orientasi Siswa atau MOS dibangunkan. Sambil menguap berulang kali, aku berlari menuju lapangan. Sungguh, aku masih mengantuk.
”Cepat, lari!”teriak seniorku yang sudah bersiaga di luar lapangan.
”Dalam hitungan kesepuluh, semua membentuk barisan!”teriak kakak senior yang lain. Semua panik.”Malam, kak!”teriakku sembari berdiri tegak.
”Kamu membentuk barisan sendiri paling ujung!”
”Siap Kak!”jawabku sembari berlari menuju tempat yang dimaksud. Saat ini aku benar-benar deg-degan. Biasanya peserta yang melakukan kesalahan akan disendirikan. Dan itu terjadi padaku. Sampai ditempat,aku sudah disambut oleh wajah garang kakak seniorku yang lain.
”Kenapa tidak pakai papan nama?!”bentak seniorku itu lagi. Aku terkejut. Seingatku aku membawa papan nama tadi. Oh,mungkin talinya putus dan terjatuh sewaktu aku berlari tadi.
”Tidak punya nama ya?!”lanjutnya. Aku diam saja, tidak menjawab.
”Push up sepuluh kali!”perintahnya sembari berbalik pergi. Mencari mangsa baru, pikirku.
Aku mengibaskan debu yang menempel dikemeja putihku. Masih dengan nafas ngos-ngosan aku melihat sekeliling.
”Hei, kamu Aldi, kan?”suara bisikan membuatku menoleh.
”Ini papan nama kamu, terjatuh disana,”ujarnya sembari menyerahkan kertas karton lusuh bertuliskan namaku. Aku tersenyum lega.
”Terimaksih ya,”ucapku pelan. Dia tersenyum.
”Lho, kok kamu berani keluar barisan?”tanyaku heran pada gadis itu.
”Tenang saja, senior kita sedang ribut disebelah utara,”katanya berbisik sambil tersenyum.
”Oh,ya?”tanyaku tak kalah pelan.
”Biasa, cari muka. Aku heran, kenapa masih ada acara kekerasan saat penerimaan siswa baru disekolah ini,”katanya dengan tatapan menerawang.Aku menoleh sedikit.
”Mungkin sudah tradisi,”jawabku sekenanya. Dia mendengus.
”Eh...setelah ini semua peserta akan ditutup matanya. Lalu... selanjutnya akan terjadi drama seru,” katanya tepat ditelingaku,membuat bulu kudukku berdiri.
”Maksudnya...drama bagaimana...?”tanyaku penasaran. Dia tersenyum misterius.
”R...a..h..a...s..i..a..”jawabnya,membuatku semakin penasaran.
Belum selesai rasa penasaranku, apa yang diramalkan temanku tadi benar terjadi. Semua siswa ditutup matanya satu persatu. Lalu kurasakan tubuhku didorong entah kemana. Kudengar ada yang dicaci maki, lalu suara pukulan bertubi-tubi. Sayup-sayup kudengar suara temanku tadi merintih kesakitan. Apa wanita juga ikut dipukuli? Oh, ada apa ini? Aku mulai ngeri. Aku berusaha meraba sekitar, tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu. Dingin.
”Ini aku Mezaluna,yang dibelakangmu tadi Aldi.Buka saja matamu,”
Aku bernafas lega. Ternyata temanku tidak apa-apa.
”Kamu baik-baik saja kan?”tanyaku saat melihat wajahnya pucat. Dia mengangguk.
Aku menatap sekeliling. Sepi. Aku berada diruang kelas tiga yang kosong. Berdua saja dengan Mezaluna. Heran, bagaimana aku bisa tiba disini?
”Kita aman disini,”katanya sembari mengintip keluar.
”Kamu dikelas apa?”tanyaku membuka percakapan. Mezaluna menoleh.
”Ra...ha...sia,”jawabnya sembari tersenyum simpul. Aku mencibir.
“Sampai kapan kita disini?”tanyaku.
”Em....sampai semua aman!Kamu ngantuk ya?tidur saja, biar aku yang jaga.”
Mezaluna mengangguk meyakinkan, seolah mengerti tatapan mataku. Sungguh mataku sudah terasa berat, tetapi rasanya tidak enak membiarkan seorang gadis secantik dia menjadi satpam.
Aku terbangun oleh sinar matahari yang menerobos masuk dari ventilasi. Aku mengerjapkan mata, ternyata aku tidur juga semalam. Eh, Mezaluna mana? Jangan-jangan dia ketahuan senior lalu dihukum?
Bergegas aku keluar kelas dengan wajah bingung. Tampak siswa lain berseliweran menenteng peralatan mandi.
”Al, kemana aja sih, dari tadi dicariin temen-temen!”
Suara Beni menyambutku di depan kelas. Kulihat dia sudah berseragam rapi.
“Buruan mandi! Lima belas menit lagi acara penutupan.”
Meski masih bingung, aku segera menuju kamar mandi. Sehabis mandi, masih banyak sekali tanda tanya yang bergelantungan diotakku. Acara penutupan akan segera dimulai. Semua siswa dikumpulkan di aula, duduk dikursi yang sudah tertata rapi. Sedari tadi mataku tak henti-hentinya mencari sosok Mezaluna. Heran, kenapa aku jadi merasa kehilangan begini?
”Al, kamu nyari siapa, gelisah sekali?”
Beni yang duduk disebelahku, rupanya memperhatikan tingkahku sejak tadi.
”Kamu tahu Mezaluna?”tanyaku. Biasanya Beni cepat hafal nama cewek-cewek cantik disekolah.Meskipun baru pertama kali bertemu.
”Mezaluna??Anak kelas apa?”tanyanya lagi. Aku menggeleng. Beni ikut menggeleng.
”Dia cantik sekali Ben.Mustahil kalau kamu tidak mengenalnya!”kataku berapi-api,membuat Beni menatapku heran.Beni kembali menggeleng. Aku kecewa.
”Tidak biasanya kamu memuji cewek sampai seperti itu?”
”Kamu baik-baik saja kan, Al?” lanjutnya lagi. Aku mengangguk sambil mendengus.
”Tenang saja, dia pasti datang. Semua siswa baru wajib kumpul diaula kok,” katanya menghiburku.
”Ben, semalam siapa yang dipukul?”tanyaku setengah berbisik.Beni menoleh.
”Dipukul? Kapan?”
”Waktu mata kita ditutup...”
Beni tampak berpikir sejenak.
”Tidak ada yang dipukul kok. Setelah mata ditutup, kita semua diarahkan ketengah lapangan membentuk lingkaran...”jelas Beni.
”Lalu semua begandengan tangan. Setelah itu, tutup mata kita dibuka.Eng...acara selanjutnya... menyanyi bersama lagu mars SMU kita,”jelas Beni panjang lebar. Aku mengernyitkan dahi, mencari kebenaran dari apa yang baru saja Beni ceritakan.
”Jangan melihatku seperti itu,Al. Sumpah,aku tidak bohong!”
Aku menghela nafas, memikirkan kejadian tadi malam. Lalu suara apa yang aku dengar semalam? Suara pukulan, rintihan, bentakan?Ah, aku bingung.
Acara penutupan telah selesai. Namun sosok Mezaluna belum juga kutemukan. Bahkan saat keluar aula, aku sengaja memperlambat langkah, lalu berdiri dipintu keluar, kalau-kalau Mezaluna muncul dari dalam.
Satu persatu peserta pulang.Kini hanya tinggal panitia yang tengah membersihkan ruangan. Aku masih berdiri lemas didepan pintu. Kuputuskan untuk berbalik pulang. Baru beberapa langkah, terdengar olehku seseorang menyebut nama Mezaluna. Aku menoleh. Tampak seorang panitia dan seorang guru tengah bercakap dibalik pintu. Aku mendekat.
”Terimakasih bimbingannya Pak,Alhamdulillah acaranya lancar,”kata si panitia sembari menjabat tangan Bapak Guru itu.
”Ya,sama-sama... yang penting jangan ada lagi kekerasan disekolah kita.”
”Saya juga sangat hati-hati merancang acara ini Pak,jangan sampai kasus Mezaluna terulang lagi,”ujar panitia itu lirih. Darahku berdesir. Aku mempertajam pendengaran.
”Setelah selesai bersih-bersih, tolong kamu kumpulkan teman-teman. Kita bersama-sama kemakam Mezaluna,”ujar Pak Guru itu sembari berlalu.
Aku masih berdiri dibalik pintu. Berusaha mempercayai apa yang baru saja kudengar.

Pertemuan Seusai Jeda

Pertemuan Seusai Jeda

Aku turun dari sana
Menunjuk tinggi yang tertutup kabut
Jauh datang kemari, hanya bertemu kamu
Yang aku tak tahu hanya diam
Segalanya terbenam banyu hening
Samar bagai bulan, merajut dimatamu

Ada apa, sebuah kata tanya
Klasik yang menjelma batu dibibirku
Lalu lidah terikat tambang
Menjulur dililit jutaan rambut, atas nama bisu

Jangan dipendam, sayang
Aku tak tahu yang ada disamudera itu
Ikan hiu atau mutiara biru
Mestinya apa muka tak tampak, aku tak tahu
Jangan disimpan, sayang
Segalanya bisa menua
Katakan saja, kucoba terima

(Ade Nilasari)
Copyright 2012. All rights reserved.
artist photos